Yuk, Cermati Formasi Upacara Hari Santri Nasional di Comal Pemalang Hari Ini

Comal, Pemalang - Menyambut Hari Santri Nasional tanggal 22 Oktober 2018 ini, MWC NU 05 Comal Pemalang bekerjasama dengan berbagai pihak mengadakan serangkaian kegiatan peringatan. Salah satunya adalah Upacara Hari Santri Nasional III yang diadakan di Stadion Jatidiri, Comal, Pemalang.

Berikut ini adalah formasi barisan upacara, silakan tempatkan diri sesuai dengan ketentuan agar memudahkan pengaturan dan demi kelancaran kegiatan.
Formasi Barisan Upacara Hari Santri Nasional 2018 di Comal Pemalang

Pastikan juga anda mengetahui rekayasa lalu lintas dan parkir kendaraan untuk Pawai Ta'aruf seperti dalam postingan berikut ini ya.
Semoga pelaksanaan kegiatan Peringatan Hari Santri Nasional berjalan dengan lancar dan tertib. Insya Allah.

Ini Dia, Rekayasa Lalu-Lintas dan Parkir Kendaraan Hari Santri Nasional 2018 di Comal Pemalang

HSN 2018


Ini dia, rekayasa lalu-lintas dan pengaturan parkir kendaraan dalam Upacara Peringatan Hari Santri Nasional 22/10/2018 di Lapangan Jatidiri Comal Pemalang.

Pukul 07.00 kendaraan dari arah utara lapangan Jatidiri dialihkan lewat belakang lapangan Jatidiri, kecuali peserta upacara.

Motor dan Mobil dilarang parkir dipinggir jalan, kecuali kereta mini. Posisi kereta mini menghadap ke utara.

Bagi kereta mini yg arahnya dari ranting utara pantura agar berangkat lewat Desa Kauman, nanti masuk lewat selatan lap Jatidiri,langsung menghadap ke utara

Parkir motor didahulukan ditanah kosong sebelah selatan lap Jatidiri, setelah penuh baru nanti mengular kesebelah  timur lap jatidiri sampai belakang pos polisi

Pada saat upacara berlangsung kami akan mengatur posisi mobil utk start kirab.

Urutan2 kirab .paling depan mobil polisi-mobil kotak Koin NU-mobil pembawa bendera-mobil bawa drumband-mobil banom2 NU (disela2nya nanti diselingi mobil rebana)-sepeda motor-kereta mini-ambulance.
Rekayasa Lalin Parkir Hari Santri 2018 Comal Pemalang

All Out, Persiapan Peringatan Hari Santri Nasional 2018 MWCNU 05 Comal

Hari Santri Nasional 2018 di Comal Pemalang

MWCNU 05 Comal Pemalang - Hari Santri Nasional (HSN) sebentar lagi, persiapan peringatan HSN 2018 gencar dilakukan oleh segenap kader NU di Comal Pemalang. Terlihat pemasangan Bendera Merah Putih dan panji-panji NU di sepanjang Jalan A. Yani Comal pada Sabtu malam (20/10).

"Kita All Out melakukan persiapan, kita buat agar Peringatan Hari Santri Nasional di Comal Pemalang ini meriah." tandas Achmad Hibatullah, M.Pd. ketua panitia. "Memang peringatan HSN menjadi agenda tahunan, namun tahun ini berbeda karena melibatkan ribuan santri di Comal. Meskipun belum kekuatan penuh, tetapi antusias santri sangat luar biasa. Bahkan ada sekolah yang menerjunkan 1000 lebih santrinya untuk ikut kegiatan kita." tambah Kurdi DW, S.Pd. ketua MWCNU 05 Comal.
Hari Santri Nasional 2018 di Comal Pemalang

Hari Santri Nasional 2018 di Comal Pemalang

Hari Santri Nasional 2018 di Comal Pemalang

Hari Santri Nasional 2018 di Comal Pemalang

Hari Santri Nasional 2018 di Comal Pemalang

Terlihat persiapan dilakukan dengan meriah melibatkan berbagai unsur dari NU. Hingga sabtu malam, pemasangan bendera masih dilakukan. Diharapkan Senin (22/10) kegiatan akan meriah dan berlangsung dengan lancar.

MWCNU 05 Comal Serius Persiapkan Peringatan Hari Santri Nasional 2018

Hari Santri Nasional MWCNU 05 Comal Pemalang

Comal, Pemalang - Menyambut peringatan Hari Santri Nasional tanggal 22 Oktober 2018 nanti, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) 05 Comal Pemalang melakukan rapat akhir persiapan kegiatan pada Kamis (18/10) kemarin. Hadir dalam rapat ini adalah pengurus MWCNU 05 Comal, Kader NU Ranting, Lembaga dan Banom NU serta undangan dari Madrasah Diniyyah, MTs, MA, SMK serta undangan lain yang berafiliasi dengan NU. Rapat ini dilakukan untuk menyiapkan Upacara Peringatan HSN 2018 di Stadion Jatidiri serta Pawai Ta'aruf keliling kecamatan Comal Pemalang.
Hari Santri Nasional MWCNU 05 Comal Pemalang

"Kita persiapkan dengan matang agar peringatan ini menjadi syiar, bahwa santri bisa menyatukan negeri. Itulah kenapa kita lakukan upacara dan pawai ta'aruf", ujar Kurdi DW, S.Pd. ketua MWCNU 05 Comal. Lebih jauh, ketua kegiatan Achmad Hibatullah, M.Pd. menyatakan bahwa upacara ini juga melibatkan berbagai pihak termasuk Camat Comal yang akan menjadi pembina upacara. "Memang kita berniat merangkul semua pihak, sesuai dengan slogan Santri Satukan Negeri" imbuhnya.
Hari Santri Nasional MWCNU 05 Comal Pemalang

Dalam kesempatan yang sama, Lutfi Kamal, M.Pd.I wakil ketua panitia yang juga perwakilan dari SMK Nusantara 1 Comal Pemalang mengatakan bahwa seluruh siswa dan guru dari SMK Nusantara 1 Comal akan diterjunkan semua. "Kurang lebih ada 1.500 siswa dan 120 guru akan kita terjunkan. SMK Nusantara 1 Comal siap memeriahkan Hari Santri Nasional 2018 di Kecamatan Comal ini."
Hari Santri Nasional MWCNU 05 Comal Pemalang

Dijadwalkan, Senin 22 Oktober 2018 akan digelar Upacara Peringatan Hari Santri Nasional se-Kecamatan Comal Pemalang yang akan dilaksanakan di Stadion Jatidiri. Dilanjutkan Pawai Ta'aruf Santri keliling Kecamatan Comal dan berakhir di Taman Kota Comal. Mari kita sambut Hari Santri Nasional dengan semangat persatuan dan kesatuan! Santri Satukan Negeri!

Halal Bihalal Tinjauan Hukum, Bahasa, dan Qur'ani

Para pakar selama ini tidak menemukan dalam Al-Qur’an atau Hadits sebuah penjelasan tentang halal bihalal. Istilah itu memang khas Indonesia. Bahkan boleh jadi pengertiannya akan kabur di kalangan bukan bangsa Indonesia, walaupun mungkin yang bersangkutan paham ajaran agama dan bahasa Arab.

Mengapa? Karena istilah tersebut juga muncul secara historis dan filosofis oleh salah seorang Pendiri NU Kiai Wahab Chasbullah untuk menyatukan bangsa Indonesia yang sedang dilanda konflik saudara sehingga harus menyajikan bungkus baru yang menarik agar mereka mau berkumpul dan menyatu saling maaf-memaafkan.

Terkait dengan makna yang terkandung dalam istilah halal bihalal, Pakar Tafsir Al-Qur’an Prof Dr Muhammad Quraish Shihab dalam karyanya Membumikan Al-Qur’an (1999) menjelaskan sejumlah aspek untuk memahami istilah yang digagas Kiai Wahab Chasbullah tersebut.

Pertama, dari segi hukum fiqih. Halal yang oleh para ulama dipertentangkan dengan kata haram, apabila diucapkan dalam konteks halal bihalal akan memberikan kesan bahwa mereka yang melakukannya akan terbebas dari dosa.

Dengan demikian, halal bihalal menurut tinjauan hukum fiqih menjadikan sikap kita yang tadinya haram atau yang tadinya berdosa menjadi halal atau tidak berdosa lagi. Ini tentu baru tercapai apabila persyaratan lain yang ditetapkan oleh hukum terpenuhi oleh pelaku halal bihalal, seperti secara lapang dada saling maaf-memaafkan. 

Masih dalam tinjauan hukum fiqih. Menurut para fuqaha, istilah halal mencakup pula apa yang dinamakan makruh. Di sini timbul pertanyaan, “Apakah yang dimaksud dengan istilah halal bihalal menurut tinjauan hukum itu adalah adanya hubungan yang halal, walaupun di dalamnya terdapat sesuatu yang makruh?

Secara terminologis, kata makruh berarti sesuatu yang tidak diinginkan. Dalam bahasa hukum, makruh adalah suatu perbuatan yang tidak dianjurkan oleh agama, walaupun jika dilakukan tidak mengakibatkan dosa, dan dengan meninggalkan perbuatan itu, pelaku akan mendapatkan ganjaran atau pahala.

Atas dasar pertimbangan terakhir ini, Quraish Shihab tidak memahami kata halal dalam istilah khas Indonesia itu (halal bihalal), dengan pengertian atau tinjauan hukum. Sebab, pengertian hukum tidak mendukung terciptanya hubungan harmonis antar-sesama.

Kedua, tinjauan bahasa atau linguistik. Kata halal dari segi bahasa terambil dari kata halla atau halala yang mempunyai berbagai bentuk dan makna sesuai rangkaian kalimatnya. Makna-makna tersebut antara lain, menyelesaikan problem atau kesulitan atau meluruskan benang kusut atau mencairkan yang membeku atau melepaskan ikatan yang membelenggu

Dengan demikian, jika kita memahami kata halal bihalal dari tinjauan kebahasaan ini, seorang akan memahami tujuan menyambung apa-apa yang tadinya putus menjadi tersambung kembali. Hal ini dimungkinkan jika para pelaku menginginkan halal bihalal sebagai instrumen silaturahim untuk saling maaf-memaafkan sehingga seseorang menemukan hakikat Idul Fitri.

Ketiga, tinjauan Qur’ani. Halal yang dituntut adalah halal yang thayyib, yang baik lagi menyenangkan. Dengan kata lain, Al-Qur’an menuntut agar setiap aktivitas yang dilakukan oleh setiap Muslim merupakan sesuatu yang baik dan menyenangkan bagi semua pihak.

Inilah yang menjadi sebab mengapa Al-Qur’an tidak hanya menuntut seseorang untuk memaafkan orang lain, tetapi juga lebih dari itu yakni berbuat baik terhadap orang yang pernah melakukan kesalahan kepadanya.

Dari semua penjelasan di atas dapat ditarik pesan bahwa halal bihalal menuntut pelaku yang terlibat di dalamnya agar menyambung hubungan yang putus, mewujudkan keharmonisan dari sebuah konflik, serta berbuat baik secara berkelanjutan.

Kesan yang berupaya diejawantahkan Kiai Wahab Chasbullah dalam mencetuskan istilah halal bihalal lebih dari sekadar untuk saling memaafkan, tetapi mampu mencipatakan kondisi di mana persatuan di antar-anak bangsa tercipta untuk peneguhan negara.

Sebab itu, halal bihalal lebih dari sekadar ritus keagamaan, tetapi juga kemanusiaan, kebangsaan, dan tradisi yang positif karena mewujudkan kemaslahatan bersama. (Fathoni)
Sumber: http://www.nu.or.id/post/read/92012/halal-bihalal-tinjauan-hukum-bahasa-dan-qurani

Khutbah Shalat ‘Idul Fitri 1 Syawal 1439 H Oleh Muhammadun Zuhri Al-Utsmany

Image result for khutbah idul fitri 1439 H


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله اكبر ٩ ×
الله اكبر كبيرا والحمدلله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. لااله الاالله ولانعبد الا اياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون لا اله الاالله وحده، صدق وعده، ونصرعبده واعزجنده وهزم الاحزاب وحده. لااله الاالله والله اكبر الله اكبر ولله الحمد
الحمدلله الذي جعل الاعياد موسم الخيرات وجعل لنا ما في الارض جميعا للعمارة وزرع الحسنات
اشهد ان لااله الاالله وحده لا شريك له خالق الارض والسماوات واشهد ان محمدا عبده ورسوله الداعي الي دينه باوضح البينات
 اللهم صل وسلم علي سيدالكائنات نبينا محمد وعلي اله وصحبه والتابعين المجتهدين لنصرةالدين وازالة المنكرات
امابعد: فياايهاالمسلمون والمسلمات رحمكم الله
اوصيكم واياي بتقوي الله فقد فاز المتقون اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون

Ma'asyiral muslimin wal muslimat rohimakumullah
Bilamana pada pagi yang tenang tadi fajar tanggal 1 Syawal menyingsing di ufuk timur yang merupakan isyarat bahwa kita semua kini telah berada di suatu hari yang sangat berbahagia di mana seluruh umat tauhid di segenap penjuru dunia dari Maroko di belahan barat sampai Merauke di belahan bumi timur bangkit serentak bersama-sama menyuarakan dan menggemakan suara keramat dan sakti berupa takbir dan tahmid maka dengan serta merta kita kibarkan panji panji kemenangan dan bendera kejayaan.

Di pagi yang cerah ini kita berkumpul dan berhimpun di masjid sebagai ibadullah yang tunduk dan patuh, kita keluar dari rumah kita masing-masing menuju masjid yang kita cintai ini, dengan bibir yang sudah basah karena mengucapkan takbir dan tahmid Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar wa Lillahilhamd

Saudara-saudara kau muslimin dan muslimat yang berbahagia kalimat diatas adalah ucapkan keyakinan ucapan kepercayaan dan ucapan kesadaran, ucapan di atas adalah bayangan keabadian pedoman kekal sepanjang masa pangkalan tempat muslim bertolak dan pelabuhan tempat mu'min bersauh, ia adalah laksana menara laut di tengah samudra Raya, ia adalah lambang dari suatu aqidah dan keyakinan simbol dari pandangan dan pendirian hidup yg memancarkan cahaya.

Ma'asyiral Muslimin wal Muslimat Rohimakumullah
Sebulan dalam setahun kita menjalankan ibadah puasa, perintah menjalankan puasa Romadhon kita lakukan dengan patuh dan taat, kita berpuasa bukan sebagai penyiksaan diri karena mengharapkan sesuatu, melainkan sebagai pembaktian diri kepada Allah Yang Maha Kuasa, karena mengharapkan Ridho nya, apa yang dituju dengan ibadah puasa yang kita lakukan dengan memenuhi syarat dan rukunnya jelas ditegaskan dalam Alquran al-karim:

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم : ياايهاالذين امنوا كتب عليكم الصيام كما كتب علي الذين من قبلكم لعلكم تتقون
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atasmu sekalian menjalankan ibadah puasa sebagaimana yang telah diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu sekalian supaya kamu sekalian menjadi umat yang Taqwa 

Allahu Akbar 3x
Saudara-saudara kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah swt,
Pada hari Idul Fitri ini kita rasakan kenikmatan hidup beragama yang mempunyai kodrat dan taat kepada Allah, kita saksikan sebagian besar anak-anak kita bersukaria, melonjak-lonjak kian kemari karena girang dan sukanya, dengan bangga dan riang dipakainya baju baru pemberian Ibu, dipamerkannya sepatu merah hadiah ayah begitu agaknya suasana sebagian besar keluarga kita menyambut tibanya hari raya membesarkan hari jamuan Allah ini ala kadarnya sepanjang kemampuan dan kekuatan kita, Akan tetapi saudara-saudara marilah sejenak kita layangkan pandangan kita ke arah saudara-saudara kita para fuqoro dan masakin, bagi mereka Idul Fitri ini mereka rayakan tidak dengan mengenakan pakaian baru, tidak dengan menghidangkan makanan lezat, tiada pula dengan hati yang gembira, mereka sambut hari raya ini dengan perasaan pilu, dengan hati duka, karena serba tak ada. 

Ma'asyiral Muslimin wal Muslimat Rohimakumullah
Tengok pulalah anak-anak yang sudah menjadi yatim, yang tak berbapak dan tak ber ibu, sebagian dari mereka karena keadaan memaksa, sangat tidak terurus Mereka tak mempunyai baju baru pemberian Ibu tak ada celana pemberian Ayah, tak ada sepatu hadiah Paman, dengan hati pilu mereka saksikan anak-anak orang lain bersukaria mereka saksikan pula anak-anak orang lain yang mampu sedang meng hambur hambur kan uang, dengan perasaan yang pedih dengan hati ter iris iris dengan air mata yang berlainang mereka saksikan orang lain berhari raya, kepada siapakah mereka akan mengajukan nasib? ayah bunda telah tiada sedang paman telah berpulang tak ada orang yang mendukung tak ada tangan yang men jinjing.

Allahu akbar x 3
saudara-saudara sekalian marilah kita kenang sejenak, marilah kita renungkan sebentar nasib anak anak yatim piatu itu mari kita tanyakan hati nurani kita masing masing tidak berdosakah namanya kita? bila mana kita menutup mata terus menerus menyaksikan anak anak itu terapung apung dlm gelombang kesedihan, tenggelam dlm lautan air mata? Jangan saudara saudara, jangan biarkan mereka terus menerus terlunta lunta, mereka adalah tangungan kita, tempatkanlah mereka ke dlm khazanah kalbu kita. masing masing kita bertanggung jawab di hadapan Allah tentang nasib yatim piatu itu,mereka adalah amanat allah dan amanat rasulallah yg di titipkan kpd kita semu terutama ahgniyaul muslimin

Allahu akbar x3
Ma’asyirol Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah
Dari Kitab “Durratun Nashihin" diceritakan riwayat Anas bin Malik ra, Kisah yang terjadi di Madinah di zaman Rasulullah SAW, dimana pada suatu pagi di hari raya Idul Fitri, Rasulullah SAW bersama keluarganya dan beberapa sahabatnya seperti biasanya mengunjungi rumah demi rumah untuk mendo’akan para muslimin dan muslimah, mukminin dan mukminah agar merasa bahagia di hari raya itu. Alhamdulillah, semua terlihat merasa gembira dan bahagia di Hari Raya Ied tersebut, terutama anak-anak. Mereka bermain sambil berlari-lari kesana kemari dengan mengenakan pakaian hari rayanya. Namun tiba-tiba Rasulullah saw melihat di sebuah sudut ada seorang gadis kecil sedang duduk bersedih dengan kondisi yg memprihatinkan badan kurus tdk terurus, rambut acak acakan ,pakaian compang camping dan tambal tambalan , sepatu yang telah usang, dan pandangan kosong tanpa tujuan, Rasulullah saw lalu bergegas menghampirinya. Gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menangis tersedu-sedu. Rasulullah SAW kemudian meletakkan tangannya yang putih dan wangi sewangi bunga mawar itu dengan penuh kasih sayang di atas kepala gadis kecil tersebut, lalu bertanya dengan suaranya yang lembut : “Anakku, mengapa engkau menangis? Bukankah hari ini adalah hari raya?” bukankah hr ini adalah hr yg menyenangkan? Gadis kecil itu terkejut bukan kepalang. Tanpa berani mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang bertanya, perlahan-lahan ia menjawab sambil berlinang air mata : “paman pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakannya bersama orang tuanya dengan berbahagia. Semua anak-anak bermain dengan riang gembiranya. Aku lalu teringat pada ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika itu hari raya terakhir bersama ayah, Ia membelikan aku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah SAW membela Islam dan kemudian ia meninggal. Sekarang ayahku sudah tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuk ayah, lalu untuk siapa lagi aq menangis?”

Setelah Rasulullah saw mendengar cerita itu, seketika hatinya diliputi kesedihan yang mendalam. Dengan penuh kasih sayang beliau membelai kepala gadis kecil itu sambil berkata: “Anakku, hapuslah air matamu… Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan aku katakan kepadamu…. Apakah kamu ingin agar aku Rasulullah menjadi ayahmu? … Dan apakah kamu juga ingin Ali menjadi pamanmu?. Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu?…. dan Hasan dan Husein menjadi adik-adikmu? dan Aisyah menjadi ibumu ?. Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?” Begitu mendengar kata-kata itu, gadis kecil itu langsung berhenti menangis. Ia memandang dengan penuh takjub orang yang berada tepat di hadapannya. Masya Allah! Benar, ia adalah Rasulullah SAW, orang tempat ia baru saja mencurahkan kesedihannya dan menumpahkan segala gundah di hatinya. Gadis yatim kecil itu sangat tertarik pada tawaran Rasulullah SAW, namun entah mengapa ia tidak bisa berkata sepatah katapun. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda persetujuannya. Gadis yatim kecil itu lalu bergandengan tangan dengan Rasulullah SAW menuju ke rumah. Hatinya begitu diliputi kebahagiaan yang sulit untuk dilukiskan, karena ia diperbolehkan menggenggam tangan Rasulullah SAW yang lembut seperti sutra itu.

Allahu Akbar x 3
Maasyirol Muslimin wal Muslimat Rohimakumullah
Dalam kesempatan berlebaran pada hari raya Idul Fitri ini, marilah kita sama-sama membersihkan hati kita sesama muslim, hilangkan rasa benci, rasa dengki, gantilah semuanya itu dengan Marhamah dan Mahabbah serta kasih sayang, dengan hati terbuka, muka yang jernih, dan tangan yang diulurkan, kita saling bermaaf-maafan kita buka lembaran baru yang masih putih bersih, kita tutup halaman lama yang mungkin banyak terdapat kotoran dan noda, biarlah yang tua memberi maaf yang muda, Ayah memberi maaf kepada anak, suami memberi maaf kepada istri, mertua memberi maaf kepada menantu, Demikian pula sebaliknya, dengan ucapan:

جعلناالله واياكم من العائدين والفائزين كل عام وانتم بخير
Mohon maaf lahir dan batin
Allahu Akbar x3
Maasyirol Muslimin wal Muslimat Rohima Kumullah
Demikianlah khutbah Idul Fitri yang dapat saya sampaikan mudah-mudahan bermanfaat fiddini waddunya wal akhiroh amin ya rbbal alamin. 

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم: وسارعوا الي مغفرة من ربكم وجنة عرضهاالسموات والارض اعدت للمتقين
بارك الله لي ولكم في القران العظيم ونفعني واياكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته انه هو السميع العليم، الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
‏ ‏
الخطبة الثانية
الله أكبر×
الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان ‏الله بكرة وأصيلا.‏‎ ‎لاإله إلا الله والله ‏أكبر ولله الحمد. ‏
الحمد لله حق حمده. أشهد أن ‏لاإله إلا الله اللطيف بجميع خلقه. ‏وأشهد أن محمدا عبده ورسوله ‏المبعوث لتتميم اخلاق امته.
اللهم صل وسلم على سيدنا ‏محمد وعلى أله واصحابه. أما بعد
 ‏ :فيا عباد الله ! اتقوا الله حق ‏تقاته. ولازموا الصلاة على خير خلقه. ‏فقد أمركم الله بذلك إرشادا وتعليما ‏لعباده فقال إن الله وملائكته يصلون على النبى. يا ‏أيها الذين أمنوا صلوا عليه وسلموا ‏تسليما :‏ ‏.
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا ‏محمد وعلى أله وصحبه أجمعين. وعلى ‏التابعين وتابعيهم بإحسان الى يوم الدين.
 ‏وارحمنا معهم برحمتك يا أرحم ‏الراحمين
اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات ‏والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم ‏والأموات إنك سميع فريب مجيب ‏الدعوات. يا رب العالمين ‏
اللهم أعز الإسلام والمسلمين. ‏وأهلك الكفرة والظالمين. ودمر أعدائنا ‏أعداء الدين. ‏
اللهم اجعل بفضلك هذا البلد امنا مطمئنا. وارفع اللهم مقتك وغضبك ‏عنا. ولا تسلط علينا بذنوبنا، من ‏لايخافك ولا يرحمنا، يا ارحم الراحمين.

اللهم اجْعَلَ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا ‏نَصِيْرَا, وَرِزْقًا كَثِيْرَا, وَلِسَانًا ذَاكِرَا, وَقَلْبًا ‏قَرِيْرَا, وَعِلْمًا غَزِيْرَا, وَعَمَلًا بَرِيْرَا, وَقَبْرًا ‏مُنِيْرَا, وَحِسَابًا يَّسِيْرَا, وَمُلْكًا فْي جَنَّةِ ‏الْفِرْدَوْسِ كَبِيْرَا. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا ‏مُحَمَّدٍ الَّذِي اَرْسَلْتَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا ‏وَّنَذِيْرَا, وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ ‏تَسْلِيْمًا كَثِيْرَا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ ‏عَمَّا يَصِفُونْ. وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينْ. ‏وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينْ

عبادا الله! ان الله يأمر بالعدل ‏والاحسان. وايتاء ذى القربى وينهى عن ‏الفحشاء والمنكر والبغي. يعظكم ‏لعلكم تذكرون. فاذكروا الله يذكركم, واسئلوه من ‏فضله يعطكم ولذكر الله اكبر.‏
 

Pembunuhan (Kajian dalam kitab Irsyadul ‘Ibad). Bagian I



Ketika Ramadhan 1439 H ini mengaji kitab Irsyadul Ibad kepada Abah saya, sampailah pada pembahasan bab pembunuhan di halaman 97. Bab ini langsung menarik perhatian saya saat itu juga, karena ketika membaca judul bab, ingatan saya lansung melesat jauh menuju kejadian pengeboman di gereja di Surabaya beberapa minggu yang lalu.

Syeikh Zainuddin Al-Malibary dalam bab tersebut pertama kali mengutip firman Allah SWT dalam Surat An-Nisa’:93

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allâh murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya. [An-Nisâ`/4:93]

Pada baris berikutnya, muallif kitab menuliskan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah :

عن أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ اِجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ!” قِيلَ: “يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: “الشِّرْكُ بِاللهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيتيم وأكل الربا والتولّي يوم الزحف وقَذف المحصنات الغافلات المؤمناتِ(رواه البخاري و مسبم)

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang membinasakan!” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa sajakah tujuh perkara tersebut?” Beliau menjawab, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan jalan yang dibenarkan (oleh syariat), memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari medan pertempuran, dan menuduh zina wanita beriman yang menjaga kehormatannya.” [HR. al-Bukhari dan Muslim]

Hadits tersebut juga dudukung oleh hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’I dan Imam Hakim. Hadits berikut dinyatakan shohih oleh Imam Hakim. Adapun haditsnya sebagai berikut:

عن معاوية قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم كل ذنب عسى الله أن يغفره إلا الرجل يموت كافرا أو الرجل يقتل مؤمنا متعمدا.

“Dari Mu’awiyah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “semoga Allah mengampuni setiap dosa kecuali kepada orang yang meninggal dalam kekafiran, atau orang yang membunuh orang mukmin dengan sengaja”

Muallif menguatkan argumentasinya dengan menghadirkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Hibban dari Abu Darda’ yang maknanya hadits sama dengan hadits di atas, hanya istilah kafir dalam hadits penguat ini menggunakan istilah musyrik.

Dalam ulasan berikutnya Syeikh Zainuddin menuliskan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Dhiya’ dari Ubadah. Hadits tersebut menjelaskan bahwa seseorang yang melakukan pembunuhan kepada orang mukmin dan kemudian merasa bangga dengan tindakan tersebut, maka ibadah fardhu dan ibadah sunnahnya tidak akan diterima oleh Allah SWT. Pertanyaannya …bagaimana dengan mereka yang selama ini secara percaya diri dan bangga menge-share aksi membunuh di media informasi, media sosial yang akan disaksikan oleh jutaan manusia di bumi ini. Berikut ini keterangan dalam kitab tersebut:

عن عبادة من قتل مؤمنا فاغتبط بقتله لم يقبل الله منه صرفا ولا عدلا أي فرضا ولا نفلا.

“Dari ‘Ubadah: “barang siapa membunuh orang mukmin kemudian merasa senang dengan pembunuhan tersebut, maka Allah SWT tidak akan menerima ibadah fardhu dan ibadah 
sunnahnya”

Menghayati kandungan Surat An-Nisa’ ayat 93 dan tiga hadits diatas dapat kita cermati, bahwa penghilangan nyawa seseorang dalam kondisi bukan perang merupakan perbuatan yang sangat keji yang sangat dibendu Allah SWT dan Rasul-Nya serta merusak sendi-sendi nilai kemanusiaan. Bahkan dalam perangpun tetap berpegang pada kaidah peperangan yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW yang tidak memperbolehkan membunuh wanita, orang tua, anak-anak, dan merusak tempat ibadah. Sementara kita saksikan aksi pengeboman yang dengan sengaja mengincar orang-orang yang akan menjalankan ajaran agama coba dibunuh dengan menggunakan bom, dan juga melukai para aparat kepolisian yang sedang bertugas.

Sekian oleh-oleh dari ngaji di bulan Ramadhan 1439 H ini, walaupun sedikit semoga bermanfaat. والله أعلم بالصواب. (Hibat/Kader Penggerak NU Kec. Comal)